Karya Sastra yang Asing di Negeri Sendiri

Hai Sobat Pio! Kalian tahu tidak fakta tentang Sastra Melayu Tionghoa? Sastra Melayu Tionghoa memakai bahasa yang dianggap rendah dibandingkan Melayu Tinggi yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Sastra Melayu Tionghoa sempat membuat pusing Balai Pustaka, karena bahasanya dinilai rendah dan tidak menggambarkan citra baik dari Belanda. Berikut potongan syairnya.

Sinar mata-hari kapan waktoe sedeng gilang-goemilang,
Antero boeroeng samboet dengen penoeh rasa girang,
Tapi itoe kegirangan gampang beroebah dan tenggelem,
Bila di sabelah koelon mata-hari pergi boeat silem

Kapan Sampe Di Poetjaknja (1930) ditulis oleh Dahlia (Tan Lam Nio).

Potongan syair di atas sekarang terasa asing di mata pembaca Indonesia. Dari segi bahasa sudah terlihat dengan jelas bahwa potongan syair tersebut menggunakan ejaan lama. Potongan tulisan tersebut merupakan salah satu bagian dari novel yang dikarang oleh Tan Lam Nio atau biasa dikenal dengan nama Pena Dahlia. Ia merupakan seorang penyair peranakan Tionghoa dan menjadi salah satu sastrawan dalam kancah Kesusastraan Melayu-Tionghoa. Dahlia merupakan seorang penulis yang produktif. Sejak pertama Dahlia menerbitkan bukunya pada tahun 1931 dalam kurun waktu tiga tahun saja, setidaknya dia telah menerbitkan lima buah roman dan beberapa cerita pendek, syair, serta puisi. Dalam karangannya, Dahlia menulis dan menceritakan tentang kehidupannya, serta membahas mengenai dinamika sosial dan politik. Dalam buku “Kesusastraan Melayu Tionghoa Jilid 1” terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2000, yang biasa disebut peranakan Tionghoa adalah hasil dari pernikahan antara orang Tionghoa dengan masyarakat setempat.

Karya sastra Melayu Tionghoa diperkirakan muncul pada abad ke-19 dan populer pada abad ke-20. Sastra Melayu Tionghoa menurut Nio Joe Lan telah berakhir pada 1962. Dalam “Kesusastraan Melayu Tionghoa Jilid 1” terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, dia mengatakan bahwa tidak ada lagi tulisan peranakan Tionghoa yang menggunakan bahasa lisan sehari-hari. Ia juga menambahkan bahwa menurut hukum Indonesia tidak ada lagi kaum peranakan, karena masyarakat keturunan Tionghoa tersebut telah menjadi bangsa Indonesia. Kesusastraan Melayu Tionghoa merupakan karya tulisan dari peranakan Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu Pasar. Dalam karya sastra Melayu Tionghoa, mereka menuliskan bahasa percakapan ke dalam karyanya. Bahasa Melayu rendah juga dapat diartikan sebagai bahasa yang mudah dimengerti dan menjadi bahasa sebagian besar penduduk Hindia Belanda. Istilah bahasa Melayu rendah diperkenalkan oleh pemerintah kolonial untuk membedakan dengan bahasa Melayu Tinggi, bahasa Melayu yang lebih baku dan terpandang.

Sastra Melayu Tionghoa diberikan tempat yang tidak setara dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia, karena dahulu penulis keturunan Tionghoa belum dianggap sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Alasan lain adalah penggunaan bahasa dalam karya sastra Melayu Tionghoa adalah bahasa Melayu Pasar dan bukan bahasa Melayu Tinggi. Melayu Tinggi dianggap sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia modern saat ini.

Jadi Sobat Pio, sudah saatnya kesusastraan Melayu Tionghoa diakui sebagai saudara kandung dalam keluarga kesusastraan Indonesia. Sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat. Sampai jumpa di edisi selanjutnya. (RED_DAK)

Sumber : http://gensindo.sindonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *