Hai Sobat Pio! Tahukah kalian? Bahwa ada sebuah ungkapan masyarakat Bugis yang berbunyi, “Naia tau de’gaga sirina, de lainna olokolo’e, siri’ e mitu tariaseng tau”. Ungkapan tersebut bermakna, “Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang”. Demikianlah prinsip masyarakat Bugis. Ada pula pepatah lama yang berbunyi, “Siri Paranraeng Nyawa Palao”. Yang berarti, “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa bayarannya”. Dengan kata lain, bagi masyarakat Bugis, soal harga diri sudah tidak bisa ditawar lagi.

Dengan nilai-nilai tersebut, masyarakat Bugis rela melakukan apapun demi menegakkan harga diri atau appaenteng siri. Jika harga diri sudah terlanjur diinjak-injak, maka hanya ada satu cara untuk mempertahankan harga diri, yaitu dengan Sigajang Laleng Lipa. Apa sih Sigajang Laleng Lipa itu? Sigajang Laleng Lipa adalah tradisi tarung sarung yang dilakukan dua orang masyarakat Bugis kuno. Kedua belah pihak yang berseteru akan masuk ke dalam sarung dengan dibekali sebilah badik.

Mula-mula, kedua pihak yang berseteru akan saling berhadapan di dalam sarung. Keduanya harus mampu menjaga keseimbangan dan mengadu kekuatan hingga ada yang kalah. Kekalahan ini bisa karena salah satunya keluar dari sarung, menyerah, atau bahkan mati. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, di masa Kerajaan Bugis. Di masa itu, tarung sarung menjadi jalan terakhir jika musyawarah dan mufakat tidak membuahkan hasil. Cara ini juga dipilih karena tidak melibatkan banyak pihak, sehingga persoalan tidak merambat ke hal-hal yang lain.

Bisa dibayangkan, betapa menegangkannya tarung sarung tersebut. Di dalam ruang sarung yang sempit, kedua pihak harus berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Hanya kekuatan mental dan keahlian mempertahankan diri yang berbicara pada saat itu. Orang Bugis meyakini, ketika badik telah keluar dari sarungnya, pantang diselip di pinggang sebelum terhujam di tubuh lawan.

Akan tetapi, sebelum melakukan Sigajang Laleng Lipa, sudah tentu ada proses yang perlu dilakukan. Keluarga harus memilih anggota keluarga terbaik yang tidak berniat menyerah di medan pertarungan. Kemudian, keduanya akan membawa badik warisan leluhur keluarga yang dipercaya memiliki kekuatan dan mantra. Meski kini sudah ditinggalkan, tradisi ini masih dirawat sebagai salah satu peninggalan dari leluhur.

Nah Sobat Pio, itu tadi sedikit penjelasan tentang tradisi Sigajang Laleng Lipa. Meskipun tradisi Sigajang Laleng Lipa telah ditinggalkan, tetapi tradisi tersebut tetap menjadi warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan. Sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat ya, Sobat Pio. Sampai jumpa di edisi selanjutnya. (RED_ASA)

Sumber: www.diadona.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *