Hai Sobat Pio! apa kalian tau tarian sakral dari Jawa Tengah? Yap, Tari Bedhaya Ketawang. Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta. Nama Bedhaya Ketawang sendiri berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di Istana, dan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. Tari Bedhaya Ketawang sangat sakral, karena menyangkut Ketuhanan, dimana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, karena tari ini hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang sangat resmi. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari Bedhaya Ketawang menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai oleh sembilan dewa yang disebut dengan Nawasanga.

Sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh penarinya. Syarat utamanya adalah harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid, maka penari tetap diperbolehkan menari dengan syarat harus meminta izin kepada Kanjeng Ratu Kidul dengan melakukan caos dhahar di panggung Sangga Buwana, Keraton Surakarta. Syarat selanjutnya yaitu suci secara batiniah. Hal ini dilakukan dengan cara berpuasa selama beberapa hari menjelang pergelaran. Kesucian para penari benar-benar diperhatikan, karena konon kabarnya, Kanjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari yang gerakannya masih salah pada saat latihan berlangsung.

Pada awalnya, Bedhaya Ketawang dipertunjukkan selama dua setengah jam. Tetapi sejak zaman Pakubuwana X durasinya berkurang menjadi satu setengah jam. Gending atau musik yang dipakai untuk mengiringi Bedhaya Ketawang disebut Gending Ketawang Gedhe yang bernada pelog. Perangkat gamelan yang digunakan untuk membawakan gending ini terdiri dari lima jenis, yaitu kethuk, kenong, kendhang, gong, dan kemanak, yang sangat mendominasi keseluruhan irama gending. Di tengah-tengah tarian, laras gending berganti menjadi nada slendro selama dua kali, kemudian nada gending kembali lagi ke laras pelog hingga tarian berakhir.

Nah, secara keseluruhan Tari Bedhaya Ketawang bersifat sakral dan mengandung berbagai makna simbolis yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Ternyata tarian ini memiliki syarat ketentuan yang telah dibuat para leluhur Kanjeng Ratu Kidul. Sekian artikel tentang Tari Bedhaya Ketawang kali ini, semoga bermanfaat.(RED_SSS)

 

Sumber : www.kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *