Pahala bisa dikatakan sebagai pondasi agama. Ia mewarnai seluruh bangunan agama, mulai dari bangunan paling megah hingga yang paling biasa.  Semenjak kecil kita sudah dikenalkan pada perbuatan yang membuahkan pahala, juga sebaliknya yang mengakibatkan dosa. Pahala ini pula lah yang dijadikan dasar guru-guru agama kita buat menerangkan apa yang wajib, haram, sunnah, makruh, ataupun mubah. Ketika Bulan Ramadan, pahala menjadi semacam keseharian yang spesial dalam majelis-majelis keagamaan. Tak henti-hentinya kita mendengar betapa istimewa pahala yang dilimpahkan di bulan itu, yang berbeda dari hari-hari biasa. Jika pada hari biasa setiap kebajikan dijanjikan pahala sepuluh kali lipat (al-hasanatu bi ‘asyri amtsâliha) maka, pada Bulan Ramadan pahala yang diturunkan tak terkira agungnya seperti pengampunan segala dosa yang telah lalu (ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbih). Jadi, dapatlah kita saksikan perbuatan mengejar pahala dilakukan orang tidak seperti biasanya. Jamaah tarawih digelar tak hanya di masjid dan musola, tapi juga di perkantoran. Lantunan ayat al-Quran tak hanya menggema dari sudut kamar, tapi di radio hingga televisi, dari loud speaker masjid besar hingga musola kecil di sudut kampung.

Sedekah tak hanya dilakukan diam-diam, tapi diundanglah ratusan anak yatim-piatu dalam macam-macam pentas amal. Semua seakan sedang merayakan panen pahala, sebuah momen yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Namun, di tengah hiruk pikuk itu, kita seolah dipaksa untuk melupakan satu pertanyaan yaitu: “Apakah perbuatan yang di mata kita berpahala itu benar-benar memiliki nilai pahala yang hakiki?” Rasulullah pernah ditanya, tak hanya sekali tapi beberapa kali dengan penanya yang berbeda, tentang sebuah perbuatan yang paling utama, yang paling dicintai Allah. Tapi, setiap orang yang berbeda, berbeda pula jawaban yang diberikan.

Suatu ketika, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” Rasul menjawab, “Salat tepat waktu.” “Kemudian apa?” lelaki itu masih bertanya. “Bakti kepada orangtua.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah.” Kalau pahala yang diburu, jawaban Rasulullah tentu akan di maknai bahwa perbuatan yang paling besar pahalanya adalah salat tepat waktu, baru kemudian bakti kepada orangtua, lalu jihad. Lalu di suatu ketika saat seorang lelaki yang berbeda bertanya  “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” tanyanya. Kemudian Rasulullah menjawab “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah,” kata Rasul. “Kemudian apa?” “Haji mabrur.” Lihatlah, salat tepat waktu malah tidak disebut dalam jawaban Rasul kali ini. Di sini pun, haji mabrur, yang merupakan satu rukun Islam, diletakkan setelah jihad yang bukan merupakan rukun Islam. Di saat lain, Rasulullah bahkan tidak menyebut jawaban jihad fi sabilillah. Saat itu seorang lelaki menanyakan, “Perbuatan islami seperti apa yang paling baik, ya Rasul?” Jawaban Rasulullah sungguh di luar dugaan. Beliau tidak menyebut salat tepat waktu, haji mabrur, ataupun jihad. Apa jawab Rasul? “Engkau berilah makan orang, dan kirimlah salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.(RED_ME)

 

Sumber : https://islami.co/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *