Hai, Sobat Pio! Kalian tau tidak apa itu tenun ikat? Tenun ikat adalah karya tenun Indonesia dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Sayangnya, di Indonesia budaya ini mulai memudar dan hanya ada di kota-kota tertentu.Salah satu kota yang masih mempertahankannya adalah Kota Kediri. Namun, di Kota Kediri sendiri hanya terdapat di Bandar Kidul, seperti TIB KODOK NGOREK milik Bapak Solkhan. Usaha ini sudah didirikan sekitar tahun 1980-an oleh ayah dari Bapak Solkhan, akan tetapi baru mendapatkan perizinan resmi pada tahun 1991. Pada saat ini, TIB KODOK NGOREK sudah memasuki generasi kedua, yang diturunkan ke Bapak Solkhan beserta kakaknya.

Dibalik nama TIB KODOK NGOREK ini ternyata memiliki filosofi yang mendalam lho, Sobat Pio. “Kodok ngorek terkesan seperti orang yang bertasbih. Saat ada nikmat, yaitu berupa turun hujan. Kodok atau katak ini akan berbunyi, makannya kita ambil nama kodok ngorek. Kesannya seperti kita lebih banyak bersyukur,” ujar Bapak Solkhan. Walaupun usaha ini sudah berdiri sejak lama bukan berarti tidak pernah ada kendala. Kendala yang pernah dialami oleh Bapak Solkhan adalah permintaan yang banyak namun produksi belum bisa memenuhi permintaan. Dengan karyawan kurang lebih 30 orang yang memiliki keahlian berbeda-beda dalam proses percetakan tenun ikat. Hal ini membuatnya tidak bisa sembarang mempekerjakan orang yang tidak sesuai dengan keahliannya. Selain itu, di TIB KODOK NGOREK pekerja tersebut bersifat sementara bukan pekerja tetap.

Dalam membuat tenun ikat ini dibutuhkan keahlian khusus yang harus dimiliki dan harus sabar karena tenun ikat memiliki proses yang tidak mudah serta panjang untuk membuatnya. Motif tenun ikat yang paling banyak diminati adalah motif Ceplok-ceplok, Kawung, dan Tirto. Walikota juga pernah mengunjungi untuk melihat karya dari usaha-usaha kerajinan tenun ikat di Bandar Kidul, termasuk TIB KODOK NGOREK itu sendiri.

Jadi Sobat Pio, kita sebagai generasi penerus bangsa mari kita menghormati dan melestarikan budaya tenun ikat ini yang sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang yang telah dijaga sampai sekarang agar tidak punah. (RED_NAF)

Narasumber : Bapak Solkhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *