Hai Sobat Pio, ada gak nih di antara sobat yang minder atau tidak percaya diri? Nah, pada kesempatan kali ini kita akan bercerita tentang percaya diri.

Percaya diri. Tak semua orang memiliki karakter yang demikian. Aku pernah mendengar sebuah kisah tentang salah seorang manusia yang sempat tidak memiliki karakter tersebut. Mari kuceritakan.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, ia paling pemalu di antara teman-temannya. Ia selalu minta ditemani oleh ibunya kapan saja. Ia beralasan “aku tak mau sendirian.” Oke itu bisa dimaklumi, karena ia masih kecil. Ia juga tidak memiliki Ayah, itu salah satu alasan mengapa ia sangat minder bergaul.

Sampai ia memasuki Sekolah Menengah Pertama, ibunya selalu menemaninya di setiap acara. Bahkan saat guru menunjuknya maju untuk bernyanyi, ia malah meringkuk menyedihkan di bangkunya. Jangankan mendengar ejekan teman-temannya, ia saja tidak pernah bergaul dengan manusia siapapun kecuali ibunya yang sangat menyayanginya itu.

Sampai pada saat yang paling menegangkan dalam hidupnya, temannya mulai terganggu dengan sikapnya. “Hei Reiz, tak bosan kau hanya dengan ibumu? Cobalah cari teman. Memangnya ibumu mau menemanimu di kelas juga?” sarkas salah satu temannya. Reiz tentu sangat kaget dengan perkataan itu. Ia pikir selama ini ia seakan tidak terlihat karena tak ada yang sudi berteman dengan orang yang tak memiliki Ayah, begitulah menurutnya.

Tentu saja opini pedas dari temannya itu tidak semerta-merta membantu keadaannya. Sejak itu ia merenungi dirinya, berhari-hari bahkan. Bagaimana temannya itu bisa berkata demikian? Bukannya ia menjauhi semua orang untuk menghindari ejekan karena ia tidak memiliki Ayah? Mengapa ia tetap saja diejek? Sampai ketika ibu bertanya, ia pun tak bisa menutupi lagi semua tanda tanya besar di kepalanya. Ibunya pun menjawab, “Tidak apa-apa nak, kau sama seperti mereka. Suka bermain game, bernyanyi, belajar, dan kegiatan remaja lainnya. Tak ada salahnya kau bergaul dengan mereka. Jangan takut, sahabat yang terbaik adalah mereka yang sayang kepadamu tanpa alasan, seperti Ibu menyayangimu.” Seketika Reiz tersadar. Ia pun bertekad untuk merubah dirinya sedikit demi sedikit.

Hari demi hari, hingga tahun demi tahun ia mempelajari ilmu berkomunikasi dengan berbekal kuota internet saja. Itu sudah cukup membuatnya memiliki secercah koneksi untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Tak lupa ia juga mengikuti organisasi di sekolahnya.

Hingga sampai ia duduk di bangku SMA, semuanya sudah terlihat jelas. Bagaimana dunia ini bekerja, bagaimana manusia berinteraksi, bagaimana berbicara di depan umum, hingga bagaimana menatap lawan bicara dengan mantap. Ia merasa telah memiliki gambaran yang jelas akan dirinya di masa depan. Tak seperti dulu saat di mana ada ibunya, di situ ia merasa nyaman.

Beranjak dewasa, Reiz akhirnya berhasil keluar dari zona nyaman yang selama ini telah mengelabuhinya. Bahkan, ia sekarang telah dijuluki sebagai jurnalis muda yang cerdas dan bijak. Sungguh perjuangan yang berbuah manis.

Eh! Aku keasikan bercerita hingga lupa memperkenalkan diri. Namaku Reiz. Ya, perempuan itu adalah diriku sendiri. Untuk temanku yang mengejekku, Ibu, dan Ayah, aku sangat bersyukur kalian telah terlibat dalam diriku di masa lalu dan telah membawa perubahan luar biasa akan diriku saat ini.

Bagaimana Sobat, seru kan ceritanya? Jadi, untuk sobat yang masih merasa tidak percaya diri atau minder, cobalah untuk keluar dari zona nyaman kalian. Sifat minder bukanlah hal yang baik sobat. Tetap semangat dan semoga cerita di atas bisa menjadi motivasi untuk Sobat Pio semua.(RED_ARD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *