Difusi Pagi

By 17:41


Karya : Annisa Resmana



Hari masih muda dan masih pagi matahari untuk tiba, kau sudah menggamit tanganku untuk menuruni anak tangga yang jumlahnya ratusan, yang pinggir-pinggirnya cukup tajam karena penuh dengan koral buatan. Kalau tak salah, jarum arloji masih menunjuk angka empat, dan seingatku, kau barusan membangunkanku cepat. Tanpa sempat ku gubris setangkup roti yang telah tersedia di meja, kau sudah membawakanku sendal dan kemeja.

Tidak ada yang bergerak selain ombak kecil yang pecah. Tidak ada yang terdengar di telinga selain sepi yang megah. Matamu mengarah ke ufuk timur, ungu horizon dan merah mega mulai berbentur. Sedang aku, aku diam mengamati kamu. Karena sunyi memantulkan kedalamannya sendiri.
    
Ada dunia yang sulit kujangkau. Ada imaji yang jauhnya terlampau. Matamu mencari di mana biru itu berada. Entah apa yang ada di pikiranmu, atau mungkin sekedar mengabar pada angin.

Kepiting-kepiting kecil merayapi kakiku yang telanjang. Kau tertawa melihatku misuh-misuh karena mengusirnya. Dan kau, selalu minta ditemani. Aku tahu kau selalu menyukai tempat ini. Namun tak pernah kau jelaskan alasannya. Apakah darahmu lebih berdesir jika kau berdiri seperti ini di pesisir? Apakah jantungmu lebih berdetak jika melihat air laut menyebar derak?

Dan kau mulai bersenandung.
Nyanyian itu membuat lingkaran gema di telinga. Menutup batas akhir dari kemampuanku menjangkau sesuatu. Bersandar pada karang, mengeja yang nyata dengan terbata. Mengeja kata dengan huruf tak terbaca.

Entah apa yang membuatmu tersenyum dan merona. Kau seperti menemukan keasyikan yang paling purba. Senja dan matahari muda, dua hal untukmu yang mahalnya lebih dari apa saja.


Sumber : cerpenmu.com

You Might Also Like

0 comments